Rabu 22 Juli 2026 — Iman "Tetapi Seandainya Tidak"
Pada tahun 1956, dunia dikejutkan oleh berita lima orang misionaris muda Amerika (salah satunya Jim Elliot) yang mati ditombak oleh suku Huaorani di hutan Ekuador. Istri Jim, Elisabeth Elliot, telah berdoa siang dan malam untuk keselamatan suaminya. Secara manusiawi, doanya "tidak dijawab" dan mukjizat keselamatan fisik tidak terjadi. Namun, Elisabeth tidak menjadi pahit atau meninggalkan Tuhan. Ia membiarkan Tuhan menjadi Tuhan atas hidupnya. Beberapa tahun kemudian, ia justru kembali ke hutan Ekuador, hidup bersama suku yang membunuh suaminya, dan menuntun seluruh suku itu kepada Kristus.
"Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami... tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku..." (Daniel 3:17-18)
Saudara, bagian kitab Daniel ini ditulis dalam bahasa Aram. Kata "melepaskan" di sini menggunakan kata Aram Shezab, yang berarti menyelamatkan atau membebaskan sepenuhnya. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego sangat yakin bahwa Allah sanggup melakukan Shezab. Namun, proklamasi iman terbesar mereka terletak pada frasa "tetapi seandainya tidak" (wehen la). Banyak orang Kristen hanya percaya selama Tuhan menjawab doanya dan selama mukjizat terjadi. Namun iman yang dewasa bukan hanya percaya bahwa Tuhan sanggup, tetapi juga tetap percaya ketika Tuhan memilih jalan yang berbeda dari harapan kita. Elisabeth Elliot memiliki iman wehen la. Bagaimana dengan kita?
Pertanyaan refleksi: Apakah iman Anda saat ini bergantung pada jawaban doa yang sesuai dengan keinginan Anda, atau pada pribadi Tuhan itu sendiri?
Kalimat kunci: Iman yang sejati tidak mendikte Tuhan untuk melakukan kehendak kita, melainkan menundukkan diri pada kedaulatan-Nya betapapun sakitnya.
Newest Events
Minggu 26 Juli 2026 — Cinta yang Tidak Melepaskan
Sabtu 25 Juli 2026 — Kebutaan yang Menerangi Dunia
Jumat 24 Juli 2026 — Nyanyian di Atas Lumpur
Kamis 23 Juli 2026 — Paradoks Penglihatan Manusia
Rabu 22 Juli 2026 — Iman "Tetapi Seandainya Tidak"