Minggu 26 Juli 2026 — Cinta yang Tidak Melepaskan

George Matheson adalah seorang pemuda brilian yang memiliki masa depan cerah. Namun, di usia 20 tahun, dokter memvonisnya akan segera mengalami kebutaan total. Mengetahui hal itu, tunangannya mengembalikan cincin pertunangan mereka dengan alasan tidak mau menghabiskan hidup merawat pria buta. Hati George hancur lebur; dunianya runtuh seketika. Di tengah kegelapan total dan kesepian yang menyayat hati, ia tidak memberontak kepada Tuhan. Malam itu, ia menulis sebuah syair yang kemudian menjadi himne abadi: "O Love That Will Not Let Me Go" (Ya Kasih yang Tak Mau Melepaskanku). Ia berserah total pada kedaulatan Allah.

"Ketahuilah, Ia akan membunuh aku; aku tidak punya harapan. Namun, aku akan membela perilakuku di hadapan-Nya." (Ayub 13:15, terjemahan harfiah)

Saudara, Ayub mengucapkan deklarasi iman yang luar biasa ini di tengah kehancuran keluarga dan hartanya. Ini adalah esensi dari Let God be God. Manusia modern sering kali menggunakan Tuhan sebagai alat untuk mencapai keinginan-keinginan pribadinya—karier yang melesat, keluarga yang mapan, kesehatan yang prima. Tetapi iman yang matang adalah ketika kita sampai pada titik berkata, "Tuhan, Engkau adalah segalanya bagiku. Kalaupun Engkau mengambil semua yang kumiliki, Kasih-Mu cukup bagiku." 

Pertanyaan refleksi: Jika Tuhan mengambil satu hal yang paling Anda cintai di dunia ini, apakah Anda masih mau mengikut Dia?

Kalimat kunci: Allah tidak berhutang penjelasan kepada kita, tetapi Ia telah memberikan nyawa-Nya bagi kita; itu sudah lebih dari cukup.



Stay Connected

To stay up to date on everything happening at GBI Eben Haezer, subscribe to our weekly newsletter.