Jumat 24 Juli 2026 — Nyanyian di Atas Lumpur

Pada tanggal 28 September 2018, gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi yang mengerikan menghantam Palu dan Sigi, Sulawesi Tengah. Sebuah gereja lokal di Sigi hancur lebur tertelan lumpur likuifaksi, dan beberapa jemaat kehilangan anggota keluarga mereka dalam hitungan menit. Mereka telah berdoa untuk perlindungan, namun tragedi tetap terjadi. Hari Minggu berikutnya, sebuah pemandangan yang menggetarkan surga terjadi: sisa jemaat yang selamat itu berkumpul di atas reruntuhan berlumpur bekas gereja mereka. Tanpa atap, tanpa alat musik, dengan pakaian seadanya dan air mata yang belum kering, mereka menaikkan pujian penyembahan yang luar biasa kuat. Mereka kehilangan segalanya, tetapi mereka tidak kehilangan Tuhan mereka.

"Sekalipun pohon ara tidak berbunga... kambing domba terhalau dari kurungan... namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku." (Habakuk 3:17-18)

Saudara, kata "bersorak-sorak" dalam bahasa Ibrani adalah 'Alaz (עָלַז), yang bukan sekadar senyum tipis, melainkan lompatan sukacita yang mengekspresikan kemenangan roh. Jemaat di Sigi mengajarkan kepada kita bahwa percaya selama keadaan baik adalah hal yang biasa, tetapi bernyanyi di atas reruntuhan lumpur adalah bukti bahwa Allah bertakhta di atas tragedi. Ketika pergumulan ekonomi atau kedukaan melanda keluarga Anda, ingatlah bahwa hak prerogatif Tuhan tidak membatalkan kasih setia-Nya. 

Pertanyaan refleksi: Mampukah Anda tetap memuji Tuhan ('Alaz) ketika harapan bisnis, karier, atau kesembuhan Anda seolah-olah hancur?

Kalimat kunci: Penyembahan paling murni sering kali tidak lahir di dalam gedung yang megah, melainkan di atas reruntuhan harapan manusiawi kita.



Stay Connected

To stay up to date on everything happening at GBI Eben Haezer, subscribe to our weekly newsletter.