Minggu 19 Juli 2026 — Dua Jam di Bawah Celemek

Susannah Wesley, ibu dari John dan Charles Wesley (tokoh kegerakan Metodis), hidup di abad ke-18 dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Suaminya sering terlilit utang dan masuk penjara. Dari 19 anak yang ia lahirkan, 9 di antaranya meninggal saat bayi. Rumahnya pernah terbakar habis. Beban keluarga, ekonomi, dan tragedi yang ia pikul sudah lebih dari cukup untuk membuat seorang wanita gila. Namun, setiap hari, di tengah rumah yang sempit dan ramai oleh anak-anak, Susannah akan duduk di sudut ruangan dan menarik celemek (apron) menutupi kepalanya. Anak-anaknya tahu bahwa selama 2 jam itu, ibu mereka tidak boleh diganggu. Di bawah "tenda" celemek itu, ia melepaskan segala bebannya kepada Tuhan. 

"TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya." (Mazmur 37:23-24)

Saudara, tidak semua orang memiliki kemewahan berupa kamar yang tenang untuk berdoa. Terkadang kekacauan ada di mana-mana. Tetapi damai sejahtera sejati bukanlah ketidakhadiran masalah, melainkan kehadiran Tuhan di tengah masalah. Ibu Susannah tidak melarikan diri dari kenyataan, ia membawa kenyataan itu ke takhta kasih karunia. Berapa banyak dari kita yang sibuk mengeluhkan tekanan keluarga, tetapi tidak pernah benar-benar membangun "ruang tertutup" bersama Tuhan? Lepaskan beban Anda, bangunlah mezbah doa di mana pun Anda berada.

Pertanyaan refleksi: Di mana dan kapan "waktu di bawah celemek" Anda—saat di mana Anda menyerahkan semua kekacauan hidup kepada Tuhan?

Kalimat kunci: Ketenangan di tengah badai tidak didapat dengan mengubah keadaan, melainkan dengan mengubah arah pandangan kepada Dia yang mengendalikan badai.



Stay Connected

To stay up to date on everything happening at GBI Eben Haezer, subscribe to our weekly newsletter.