Jumat 17 Juli 2026 — Melepaskan Rantai Kebencian

Jacob DeShazer adalah salah satu penerbang Doolittle Raiders Amerika yang ditangkap oleh tentara Jepang pada Perang Dunia II. Ia disiksa, dibuat kelaparan, dan dikurung di ruang isolasi selama 40 bulan. Kebenciannya terhadap Jepang menjadi beban yang membakar jiwanya. Namun, suatu hari seorang penjaga menyelipkan sebuah Alkitab ke selnya. Jacob membacanya dan pertobatan terjadi. Beban kebencian bertahun-tahun itu seketika runtuh. Setelah perang usai, alih-alih menuntut balas, Jacob kembali ke Jepang sebagai misionaris! Bahkan, ia menuntun Mitsuo Fuchida—komandan Jepang yang memimpin pengeboman Pearl Harbor—terima Tuhan Yesus.

"Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." (Efesus 4:32)

Saudara, mengampuni adalah salah satu bentuk Let Go (melepaskan) yang paling sulit, namun paling memerdekakan. Luka masa lalu dan rasa sakit karena dikhianati adalah beban yang tidak seharusnya kita pikul. Menyimpan kepahitan ibarat kita yang meminum racun, tetapi berharap orang lain yang mati. Ketika Anda melepaskan hak untuk membalas dendam dan memilih untuk mengampuni, Anda tidak sedang membenarkan kesalahan orang tersebut, Anda sedang membebaskan diri Anda sendiri dari penjara kebencian. Pengampunan mematahkan rantai beban terberat dalam jiwa manusia. 

Pertanyaan refleksi: Siapa orang di masa lalu Anda yang bayang-bayangnya masih menjadi beban di hati Anda hari ini?

Kalimat kunci: Melepaskan pengampunan adalah langkah pertama untuk melangkah tanpa beban ke masa depan.



Stay Connected

To stay up to date on everything happening at GBI Eben Haezer, subscribe to our weekly newsletter.