Kamis, 22 Oktober 2026 — TETAP SETIA DI TEMPAT YANG BELUM IDEAL

Pada tahun 1853, Hudson Taylor, ketika masih berusia sekitar 21 tahun, berlayar dari Inggris menuju Tiongkok untuk menjadi misionaris.

Perjalanannya kemudian tidak berlangsung seperti kehidupan yang nyaman dan stabil.

Ia menghadapi masalah kesehatan, kesulitan keuangan, perubahan tempat pelayanan, konflik, kehilangan anggota keluarga, dan berbagai tekanan dalam pekerjaan misi.

Pada tahun 1860, kesehatan Taylor memburuk sehingga ia terpaksa kembali ke Inggris.

Bagi seorang yang merasa dipanggil melayani Tiongkok, pulang ke Inggris karena sakit dapat terlihat seperti kemunduran.

Namun masa tersebut tidak menjadi tahun-tahun yang sia-sia.

Di Inggris ia melanjutkan pekerjaan penerjemahan dan studi medis, menulis mengenai kebutuhan rohani Tiongkok, dan pergumulannya kemudian berkembang menjadi visi untuk mendirikan China Inland Mission pada tahun 1865. Pelayanan tersebut kemudian mengutus para misionaris ke wilayah-wilayah pedalaman Tiongkok.

Taylor tidak dapat mengendalikan semua perubahan dalam perjalanannya.

Tetapi ia tetap menjalani panggilannya di tempat di mana Tuhan mengizinkannya berada.

Firman Tuhan berkata:

“Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing.” — Ibrani 11:9

Abraham telah tiba di tanah perjanjian.

Tetapi anehnya, ketika sampai di sana ia belum hidup seperti seorang pemilik.

Ia hidup sebagai pendatang.

Ia tinggal di kemah.

Bayangkan.

Tuhan sudah memberikan janji.

Tetapi kenyataan belum terlihat seperti janji itu.

Saudara, ada musim kehidupan seperti itu.

Kita sudah taat.

Tetapi keadaan belum ideal.

Kita sudah berdoa.

Tetapi persoalan masih ada.

Kita sudah mengambil langkah.

Tetapi hasil belum terlihat.

Pertanyaannya kemudian menjadi:

Apakah saya hanya mau taat ketika keadaan segera membaik?

Atau:

Apakah saya tetap setia ketika masih harus tinggal “di dalam kemah”?

Ada orang yang sangat bersemangat ketika memulai.

Tetapi ketika proses menjadi panjang, semangatnya hilang.

Abraham mengajarkan bahwa iman bukan hanya keberanian memulai perjalanan.

Iman juga kemampuan bertahan dalam perjalanan.

Mungkin saudara sedang berada dalam musim yang belum ideal.

Jangan tergesa-gesa menyimpulkan bahwa Tuhan meninggalkan saudara.

Kerjakan yang dapat dikerjakan.

Pelihara hubungan dengan Tuhan.

Tetaplah setia.

Kita tidak selalu memilih musim kehidupan.

Tetapi kita dapat memilih bagaimana kita hidup di dalam musim tersebut.

Pertanyaan Refleksi:
Apakah ada keadaan yang belum ideal yang membuat saya tergoda untuk berhenti setia kepada tanggung jawab yang Tuhan percayakan?

Ingatlah!
“Iman bukan hanya keberanian berangkat; iman adalah kesetiaan untuk tetap berjalan ketika kenyataan belum terlihat seperti yang kita harapkan.” Amin

Stay Connected

To stay up to date on everything happening at GBI Eben Haezer, subscribe to our weekly newsletter.