Senin, 19 Oktober 2026 — BERANI MELANGKAH TANPA SELURUH PETA

Dalam ilmu pengambilan keputusan dikenal istilah ambiguity aversion—kecenderungan manusia lebih menyukai pilihan yang risikonya dapat diperkirakan daripada pilihan yang informasinya belum lengkap.

Gagasan ini terkenal melalui Ellsberg Paradox, yang diperkenalkan ekonom Daniel Ellsberg. Penelitian mengenai pengambilan keputusan kemudian menunjukkan bahwa ketidakpastian yang tidak dapat dihitung sering membuat manusia merasa lebih tidak nyaman dibandingkan risiko yang peluangnya sudah diketahui.

Kita ingin tahu.

Apa yang akan terjadi?

Apakah keputusan ini berhasil?

Apakah pekerjaan ini akan bertahan?

Apakah keluarga saya akan berubah?

Apakah pelayanan ini akan berkembang?

Ketika jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan itu belum jelas, kita mudah menunda langkah.

Tetapi kehidupan iman tidak selalu memberi kita seluruh informasi sebelum kita menaati Tuhan.

Firman Tuhan berkata:

“Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.” — Ibrani 11:8

Perhatikan kalimat terakhir:

“Tidak mengetahui tempat yang ia tujui.”

Abraham menerima panggilan.

Tetapi ia tidak menerima seluruh peta.

Tuhan tidak memperlihatkan kepadanya secara lengkap bagaimana perjalanan itu akan berlangsung, masalah apa yang akan dihadapi, berapa lama ia harus menunggu, dan kapan seluruh janji akan digenapi.

Yang jelas hanyalah satu:

Tuhan memanggilnya untuk pergi.

Dan Abraham berangkat.

Saudara, kita sering menginginkan urutan yang berbeda.

Kita berkata:

“Tuhan, tunjukkan dahulu seluruh rencana-Mu, baru saya taat.”

Tetapi Tuhan sering berkata:

“Taatilah apa yang sudah jelas, lalu percayakan apa yang belum jelas kepada-Ku.”

Tentu kita tidak boleh menggunakan ayat ini untuk membenarkan keputusan yang gegabah.

Abraham berangkat karena ada panggilan Allah, bukan sekadar karena ia ingin mencoba sesuatu yang baru.

Demikian juga dalam kehidupan kita.

Ada hal-hal yang mungkin belum kita ketahui.

Tetapi ada banyak hal yang sudah Tuhan nyatakan dengan jelas.

Kita sudah tahu bahwa kita harus jujur.

Kita sudah tahu harus mengampuni.

Kita sudah tahu harus hidup dalam kekudusan.

Kita sudah tahu harus mengasihi keluarga.

Kita sudah tahu harus menggunakan karunia untuk melayani.

Jangan jadikan ketidakjelasan tentang hari esok sebagai alasan untuk tidak menaati kebenaran yang sudah jelas hari ini.

Kita tidak perlu mengetahui seluruh perjalanan untuk mengambil satu langkah bersama Tuhan.

Pertanyaan Refleksi:
Adakah ketaatan yang sedang saya tunda karena saya menuntut Tuhan memperlihatkan terlebih dahulu seluruh hasil akhirnya?

Ingatlah!
“Iman tidak selalu menerima seluruh peta; iman menaati langkah yang sudah jelas dan mempercayakan perjalanan berikutnya kepada Tuhan.” Amin.

Stay Connected

To stay up to date on everything happening at GBI Eben Haezer, subscribe to our weekly newsletter.