Minggu, 4 Oktober 2026 — KETIKA “TIDAK” TIDAK BERARTI TIDAK DIKASIHI
Di tengah Perang Dunia II, Dietrich Bonhoeffer, seorang pendeta dan teolog Jerman, dipenjara karena keterlibatannya dalam perlawanan terhadap rezim Nazi.
Ia telah meninggalkan kesempatan hidup aman di Amerika Serikat dan kembali ke Jerman karena merasa harus bersama gereja dan bangsanya pada masa yang sulit. Namun keputusan untuk taat itu tidak menghasilkan jalan yang mudah.
Bonhoeffer dipenjara pada tahun 1943. Keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan orang-orang yang mengasihinya berharap ia dapat dibebaskan.
Tetapi pembebasan itu tidak terjadi.
Pada April 1945, hanya beberapa minggu sebelum perang di Eropa berakhir, Bonhoeffer dieksekusi di kamp konsentrasi Flossenbürg.
Secara manusia, kisah itu dapat terlihat seperti doa yang tidak mendapatkan akhir yang kita inginkan. Namun hidup Bonhoeffer terus menjadi kesaksian bahwa kesetiaan kepada Tuhan tidak selalu diukur dari apakah kita terhindar dari penderitaan.
Kadang ketaatan membawa kita bukan keluar dari penderitaan, tetapi melewati penderitaan sambil tetap berpegang kepada Tuhan.
Hal yang sama terlihat jauh lebih sempurna dalam kehidupan Yesus.
Di taman Getsemani, Tuhan Yesus berdoa:
“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” — Lukas 22:42
Yesus tidak menyembunyikan keinginan-Nya.
Ia meminta supaya cawan penderitaan itu berlalu.
Namun cawan itu tidak berlalu.
Salib tetap menanti.
Apakah itu berarti Bapa tidak mengasihi Anak?
Tentu tidak.
Justru di salib kita melihat bahwa penderitaan dan kasih Allah tidak selalu bertentangan.
Saudara, inilah kebenaran penting ketika memasuki tema REJECTION.
Kita sering menghubungkan kasih Tuhan dengan hasil doa.
Kalau Tuhan memberi yang kita minta, berarti Tuhan mengasihi.
Kalau Tuhan tidak memberi, kita merasa ditolak.
Tetapi Getsemani membongkar cara berpikir tersebut.
Jawaban “tidak” terhadap sebuah permintaan tidak sama dengan “Aku tidak mengasihimu.”
Roma 8 berkata bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus.
Karena itu, dasar keyakinan kita bukan keadaan.
Dasarnya adalah Kristus.
Saat doa dikabulkan, kita dikasihi.
Saat kita masih menunggu, kita dikasihi.
Saat jawabannya berbeda dari yang kita harapkan, kita tetap dikasihi.
Kasih Tuhan tidak naik turun mengikuti keadaan hidup kita.
Kasih-Nya telah dinyatakan secara final di dalam Kristus.
Pertanyaan Refleksi:
Apakah saya selama ini mengukur kasih Tuhan berdasarkan jawaban doa, atau berdasarkan apa yang telah dilakukan Kristus bagi saya?
Ingatlah!
“Jawaban Tuhan dapat berbeda dari keinginan kita, tetapi kasih-Nya kepada kita di dalam Kristus tidak pernah berubah.” Amin.
____________________________________
Newest Events
Jumat, 23 Oktober 2026 — BAGIAN SAYA DAN BAGIAN TUHAN
Kamis, 22 Oktober 2026 — TETAP SETIA DI TEMPAT YANG BELUM IDEAL
Rabu, 21 Oktober 2026 — FOKUS PADA LANGKAH, BUKAN HANYA HASIL
Selasa, 20 Oktober 2026 — UBAH NIAT MENJADI LANGKAH
Senin, 19 Oktober 2026 — BERANI MELANGKAH TANPA SELURUH PETA