Sabtu, 3 Oktober 2026 — KASIH KARUNIA UNTUK KEADAAN YANG BELUM BERUBAH

Pada tanggal 8 Januari 1956, lima misionaris muda di Ekuador dibunuh ketika berusaha menjalin kontak dengan suku Waodani. Salah seorang di antara mereka adalah Jim Elliot.

Bagi istrinya, Elisabeth Elliot, peristiwa itu bukan sekadar berita tragis. Ia kehilangan suami yang dikasihinya dan harus membesarkan putri mereka tanpa Jim.

Secara manusia, rencana pelayanan mereka tampak berakhir secara tragis.

Namun Elisabeth tidak meninggalkan panggilannya. Beberapa waktu kemudian ia bahkan tinggal bersama masyarakat Waodani—kelompok yang sebelumnya membunuh suaminya—bersama putrinya. Ia melayani di tengah orang-orang yang sebelumnya menjadi sumber luka terbesar dalam hidupnya.

Kisah Elisabeth bukan kisah tentang Tuhan mengembalikan semua yang hilang. Jim tidak hidup kembali. Luka kehilangan itu nyata.

Tetapi hidupnya memperlihatkan sesuatu yang lain: manusia dapat menerima kekuatan untuk tetap taat bahkan ketika keadaan tidak dikembalikan seperti semula.

Firman Tuhan berkata:

“Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” — 2 Korintus 12:9

Saudara, kita sering berpikir bahwa pertolongan Tuhan berarti masalah harus segera selesai.

Tetapi pengalaman Paulus menunjukkan sesuatu yang lebih dalam.

Tuhan memang sanggup mengangkat masalah.

Namun kadang Ia memberikan sesuatu yang lain: kasih karunia yang membuat kita mampu berjalan di tengah masalah.

Kasih karunia bukan berarti penderitaan itu tidak sakit.

Kasih karunia bukan berarti kehilangan menjadi mudah.

Kasih karunia berarti kita menerima kekuatan yang tidak berasal dari diri sendiri untuk menjalani sesuatu yang sebelumnya kita pikir tidak sanggup kita jalani.

Mungkin saudara sedang menunggu keadaan berubah.

Menunggu hasil pemeriksaan kesehatan.

Menunggu pekerjaan.

Menunggu pasangan atau anak berubah.

Menunggu masalah keluarga selesai.

Dan mungkin saudara berkata, “Tuhan, saya tidak sanggup kalau keadaan ini terus seperti ini.”

Firman Tuhan hari ini tidak meminta saudara menyangkal beratnya pergumulan.

Firman Tuhan mengingatkan:

Kasih karunia-Nya cukup.

Cukup bukan berarti saudara akan mengetahui seluruh jawabannya.

Cukup berarti Tuhan memberikan apa yang diperlukan untuk menjalani langkah hari ini.

Jangan memikul seluruh masa depan sekaligus.

Terimalah kasih karunia Tuhan untuk hari ini.

Besok, kasih karunia-Nya akan tersedia lagi.

Pertanyaan Refleksi:
Apakah saya terlalu sibuk meminta Tuhan mengubah keadaan sehingga lupa meminta kasih karunia untuk menjalani keadaan hari ini?

Ingatlah!
“Kasih karunia Tuhan tidak selalu mengangkat beban seketika, tetapi selalu cukup untuk memberi kekuatan menjalani langkah berikutnya.” Amin.

Stay Connected

To stay up to date on everything happening at GBI Eben Haezer, subscribe to our weekly newsletter.