Minggu, 15 Februari 2026 Salib: Pusat Segala Pengampunan
Di kayu salib, Yesus tidak tergantung sebagai korban yang kalah, melainkan sebagai Juruselamat yang memilih mengasihi sampai akhir. Tubuh-Nya terluka, hinaan dilontarkan, paku menembus tangan dan kaki-Nya. Namun dari mulut yang sama yang mencipta langit dan bumi, tidak keluar kutuk, melainkan doa: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
Doa itu lahir bukan karena para algojo layak diampuni, tetapi karena kasih Allah lebih besar daripada kejahatan manusia. Di salib, Yesus menanggung hukuman yang seharusnya ditimpakan kepada kita. Pengampunan bukan lagi sekadar tuntutan moral, melainkan anugerah yang dibayar lunas dengan darah.
Saudara, setiap kali saudara mengampuni, saudara sedang berdiri di tanah salib. Tanpa salib, pengampunan terasa mustahil dan melelahkan. Ia menjadi beban berat yang ditanggung dengan kekuatan sendiri. Namun dengan salib, pengampunan menjadi aliran kuasa. Bukan saudara yang memikulnya sendirian, Kristus yang memampukan.
Salib mengingatkan bahwa dosa terberat saudara pun telah diampuni. Maka luka terdalam yang saudara alami pun dapat dilepaskan. Pengampunan tidak menyangkal rasa sakit, tetapi menyerahkan keadilan ke tangan Allah yang adil dan penuh kasih.
Firman Tuhan:
Lukas 23:34
Relasi yang dipulihkan lahir dari hati yang berpaut pada salib Kristus.
Pertanyaan Refleksi:
Apakah saudara sedang berusaha mengampuni dengan kekuatan sendiri, atau bersandar pada kuasa salib Kristus?
Kalimat Kunci:
Di kaki salib, pengampunan berubah dari beban menjadi kuasa yang memulihkan.
Newest Events
Senin, 16 Februari 2026 Empati yang Melihat dengan Mata Kristus
Minggu, 15 Februari 2026 Salib: Pusat Segala Pengampunan
Sabtu, 14 Februari 2026 Mengampuni Diri Sendiri
Jumat, 13 Februari 2026 Pengampunan yang Mengubah Arah Hidup
Kamis, 12 Februari 2026 Mengampuni Meski Disalahpahami