Senin, 9 Februari 2026 Pengampunan yang Membebaskan Hati

Pada tahun 1947, Corrie ten Boom, seorang penyintas kamp konsentrasi Nazi, menghadiri sebuah kebaktian kecil di Jerman. Perang telah berakhir, tetapi luka di hatinya belum sembuh. Ayah dan kakaknya meninggal di kamp. Bau barak, teriakan penjaga, dan rasa hina masih hidup dalam ingatannya.

Usai kebaktian, seorang pria mendekatinya dan mengulurkan tangan. Ia adalah mantan penjaga kamp tempat Corrie dipenjara. Dengan suara bergetar ia berkata bahwa ia telah bertobat dan memohon pengampunan. Saat itu, Corrie mengakui bahwa hatinya menolak. Tangannya terasa berat. Luka terlalu dalam.

Dalam keheningan itu, Corrie berdoa singkat, “Tuhan, aku tidak sanggup. Tolong aku.” Dengan ketaatan, bukan perasaan, ia mengulurkan tangan. Dalam kesaksiannya, Corrie berkata bahwa kasih Kristus mengalir memenuhi hatinya. Pengampunan membebaskan bukan hanya pelaku, tetapi juga dirinya.

Firman Tuhan:
Matius 18:21–22

Pengampunan sejati lahir ketika saudara taat, bukan ketika saudara merasa siap.

Pertanyaan Refleksi:
Siapa yang selama ini sulit saudara ampuni karena lukanya terlalu dalam?



Stay Connected

To stay up to date on everything happening at GBI Eben Haezer, subscribe to our weekly newsletter.