Selasa, 3 Februari 2026 Belajar Mengasihi Tanpa Harus Menang
Watchman Nee mengalami salah satu pengkhianatan paling menyakitkan dalam sejarah gereja Tiongkok. Ia difitnah bukan oleh orang luar, melainkan oleh rekan-rekan pelayanannya sendiri—orang-orang yang pernah ia latih dan percayai. Tuduhan-tuduhan itu diserahkan kepada pemerintah komunis dan menjadi dasar pemenjaraannya.
Nee sebenarnya memiliki banyak kesempatan untuk membela diri dan membuka kebenaran. Namun ia memilih jalan salib. Ia dengan sadar menolak membalas atau menyeret gereja ke dalam konflik terbuka. Dalam catatan dan surat-suratnya, ia menulis bahwa jika pembelaan diri merusak kesatuan tubuh Kristus, maka diam adalah ketaatan yang lebih mulia.
Di balik jeruji besi, terpisah dari jemaat dan pelayanan yang ia cintai, Watchman Nee belajar mengasihi tanpa harus dimengerti. Ia menyerahkan reputasi, nama baik, dan haknya sendiri demi menjaga kesaksian Kristus tetap murni.
Ia wafat dalam kesendirian. Namun ajarannya terus menguatkan gereja hingga hari ini.
Firman Tuhan:
Efesus 4:3
Tidak semua konflik harus dimenangkan. Beberapa relasi dipelihara dengan kerendahan hati.
Pertanyaan Refleksi:
Apakah saudara sedang memperjuangkan kebenaran atau ego?
Kalimat Kunci:
Kasih Kristus bertumbuh ketika ego berhenti berteriak.
Newest Events
Jumat 3 April 2026 — Jumat Agung: Kemenangan di Balik Penderitaan
Kamis 2 April 2026 — Kasih yang Tercurah
Rabu 1 April 2026 — Jalan Menuju Salib
Selasa 31 Maret 2026 Signature to the World – Hidup yang Menyelesaikan Tugas Ilahi
Senin 30 Maret 2026 Signature to the World – Terang yang Tidak Tersembunyi