Senin, 2 Februari 2026 Kasih yang Memeluk yang Berbeda

Pada era 1950-an, ketika Amerika masih dikuasai oleh segregasi ras yang kuat, Billy Graham menghadapi tekanan besar dari berbagai pihak. Banyak kota di wilayah selatan Amerika meminta agar kebaktian-kebaktian penginjilannya memisahkan tempat duduk antara kulit putih dan kulit hitam. Awalnya, Graham mengikuti aturan tersebut demi membuka pintu pelayanan. Namun suatu hari, hatinya terusik.

Di sebuah kebaktian besar, sebelum ia naik mimbar, Graham melihat pembatas tali yang memisahkan jemaat berdasarkan warna kulit. Dengan tenang namun tegas, ia berjalan ke depan dan merobohkan tali itu di hadapan semua orang. Ia berkata bahwa Injil Yesus Kristus tidak mengenal pemisahan manusia. Tindakan itu membuatnya kehilangan sponsor, dikritik oleh pemimpin gereja, dan ditolak di beberapa kota. Namun Graham memilih taat kepada Kristus daripada tunduk pada tekanan budaya.

Namun Graham berkata, “Di kaki salib, tanahnya rata.” Ia lebih memilih kehilangan dukungan manusia daripada mengkhianati kasih Kristus.

Firman Tuhan:
Galatia 3:28

Kasih sejati tidak tunduk pada tekanan budaya, tetapi berdiri di atas kebenaran Injil.

Pertanyaan Refleksi:
Apakah saudara lebih takut kehilangan penerimaan manusia atau ketaatan kepada Kristus?

Kalimat Kunci:
Kasih Kristus tidak memilih yang serupa, tetapi memeluk yang berbeda.



Stay Connected

To stay up to date on everything happening at GBI Eben Haezer, subscribe to our weekly newsletter.