Selasa 11 Agustus 2026 — Roti yang Turun Tepat Waktu

George Müller adalah seorang hamba Tuhan yang menampung ribuan anak yatim piatu di Inggris pada abad ke-19 tanpa pernah meminta sumbangan kepada manusia. Suatu pagi yang dingin, tidak ada makanan sama sekali, tidak ada susu, dan piring-piring kosong telah ditata di atas meja. Müller meminta anak-anak untuk duduk, lalu ia menundukkan kepala dan berdoa mengucap syukur kepada Tuhan untuk makanan yang akan mereka santap. Tepat setelah ia berkata "Amin", terdengar ketukan di pintu. Seorang tukang roti datang membawa roti segar karena ia tidak bisa tidur dan merasa harus memanggang roti untuk mereka. Sesaat kemudian, kereta pengantar susu mogok tepat di depan panti asuhan, dan sang kusir memberikan semua susunya kepada anak-anak tersebut agar keretanya bisa diperbaiki.


"Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku." (Mazmur 23:1)


Saudara, ketika piring di meja makan Anda terlihat kosong—secara kiasan maupun harfiah—apa yang keluar dari mulut Anda? Daud menggunakan kata Ibrani Ra'ah yang berarti menggembalakan, memberi makan, dan mengarahkan. Mendeklarasikan Tuhan sebagai Gembala bukanlah sekadar puisi manis, melainkan sebuah proklamasi militan di tengah krisis. Mungkin saat ini kas bisnis Anda sedang menipis, atau tagihan rumah sakit membengkak. Alih-alih meratapi kekosongan, beranikan diri Anda untuk menata "piring iman" Anda dan mengucap syukur atas pemeliharaan Tuhan yang belum terlihat matanya. Gembala yang baik tahu persis kapan domba-Nya lapar, dan Dia tidak pernah kehabisan cara untuk mendatangkan mukjizat tepat pada waktunya.


  • Pertanyaan refleksi: Mampukah Anda mengucap syukur atas janji pemeliharaan Tuhan, bahkan ketika "piring" rekening bank Anda sedang kosong?


  • Kalimat kunci: Rasa syukur yang dinaikkan sebelum mukjizat terjadi adalah bentuk tertinggi dari keyakinan kita akan kesetiaan Tuhan.

Stay Connected

To stay up to date on everything happening at GBI Eben Haezer, subscribe to our weekly newsletter.