Selasa 4 Agustus 2026 — Terang di Tanah Batak

Pada tahun 1862, misionaris I.L. Nommensen tiba di Lembah Silindung, Sumatera Utara. Penduduk setempat saat itu masih hidup dalam cengkeraman kuasa gelap, animisme, dan ancaman pembunuhan antar suku. Nommensen ditolak, diancam dibunuh, bahkan sempat diberi makanan beracun oleh para tetua adat yang ingin menyingkirkannya. Di tengah ketakutan dan ancaman kematian yang nyata, Nommensen tidak mundur. Ia terus mendeklarasikan kebenaran Injil dengan penuh kasih dan keberanian, hingga akhirnya kuasa terang menembus kegelapan dan membawa kebangkitan rohani besar bagi suku Batak.

"Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." (Mazmur 119:105)

Saudara, mungkin Anda merasa masa depan anak-anak Anda, atau kelangsungan pekerjaan Anda saat ini tampak gelap seperti hutan yang belum terjamah. Dalam teks Ibrani, kata "terang" digunakan kata 'Or, yang bukan sekadar cahaya biasa, melainkan pencerahan dan kehidupan ilahi yang mengusir kekacauan (seperti terang pada penciptaan hari pertama). Di tengah kondisi Indonesia yang sering kali tidak menentu secara ekonomi, kita butuh 'Or dari Tuhan. Perkatakan firman-Nya di tengah keluarga Anda. Jadikan firman itu sebagai pelita praktis untuk mengambil keputusan finansial, bukan bergantung pada ramalan atau gosip orang.

  • Pertanyaan refleksi: Dalam area hidup Anda yang manakah Anda paling membutuhkan terang firman Tuhan saat ini?
  • Kalimat kunci: Firman Tuhan adalah satu-satunya terang yang tidak akan pernah padam oleh gelapnya ketidakpastian dunia.

Stay Connected

To stay up to date on everything happening at GBI Eben Haezer, subscribe to our weekly newsletter.