Senin 13 Juli 2026 — Ketika Salju Menutup Jalan

Isobel Kuhn, misionaris yang melayani suku Lisu di dataran tinggi Tiongkok, pernah terjebak dalam perjalanan melintasi pegunungan saat musim dingin ekstrem. Rute yang sudah ia persiapkan dengan sangat matang tertutup badai salju dan ancaman perampok. Ia terdampar di sebuah kabin kecil. Secara manusia, ia telah kehilangan semua kendali atas keselamatannya. Dalam buku hariannya, ia menulis bahwa ia diajar untuk berhenti memaksakan jadwalnya kepada Tuhan. Di tengah kesunyian kabin itu, tanpa bisa berbuat apa-apa, ia menyembah. Keesokan harinya, cuaca berubah drastis dan bantuan datang dari arah yang tidak pernah ia rencanakan.

"Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya." (Amsal 16:9)

Saudara, Tuhan menciptakan kita dengan kapasitas intelektual untuk merencanakan sesuatu, memikir-mikirkan jalan (Ibrani: Chashab - merancang, menganyam). Itu adalah hal yang baik dan bertanggung jawab. Tetapi persoalannya adalah ketika kita menjadi marah dan kecewa saat rencana (karier, jadwal, target hidup) itu terhenti oleh "badai salju" kehidupan. Iman yang dewasa bukan hanya percaya bahwa Tuhan sanggup melakukan mukjizat, tetapi juga merelakan hak kita ketika Ia menahan langkah kita demi melindungi kita. Ketika jalan ke depan tertutup, jangan memaksakan kendali Anda; berhentilah, dan izinkan Tuhan yang mengambil alih arah langkah Anda. 

Pertanyaan refleksi: Ketika rencana hidup Anda saat ini sedang tertunda atau terhalang, apakah Anda merespons dengan kepanikan atau dengan penyerahan?

Kalimat kunci: Rencana terbaik kita hanyalah sebatas kemampuan mata memandang, tetapi arahan Tuhan menjangkau hingga ke kekekalan.



Stay Connected

To stay up to date on everything happening at GBI Eben Haezer, subscribe to our weekly newsletter.