Rabu 8 Juli 2026 — Melepaskan Hak atas Hidup Sendiri

Darlene Deibler Rose adalah seorang misionaris muda di Papua Nugini ketika Perang Dunia II meletus. Ia ditangkap oleh tentara Jepang, dipisahkan dari suaminya (yang kemudian meninggal di kamp lain), dan dijebloskan ke Kamp Tawanan Kampili yang brutal. Suatu hari, ia dituduh sebagai mata-mata dan dihadapkan pada regu tembak. Di titik di mana ia sama sekali tidak memiliki kendali atas hidup atau matinya, Darlene menundukkan kepala dan berdoa, melepaskan haknya untuk hidup. Secara ajaib, sang komandan tiba-tiba membatalkan eksekusi tersebut. Dalam memoarnya, ia menulis bahwa damai yang sejati datang ketika ia menyadari bahwa ia tidak pernah benar-benar memegang kendali atas hidupnya; Tuhanlah yang memegangnya.

"Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri." (Amsal 3:5)

Saudara, kata "percayalah" dalam teks Ibraninya menggunakan kata Batach, yang secara harfiah menggambarkan tindakan membanting diri atau merebahkan diri sepenuhnya ke atas sesuatu yang kokoh tanpa ragu-ragu. Banyak dari kita hidup dengan kecemasan yang tinggi karena kita terus-menerus mencoba memegang kendali atas karier kita, masa depan anak-anak kita, atau kesehatan kita. Kita bersandar pada pengertian sendiri—mengandalkan logika, tabungan, atau koneksi. Menyerahkan kendali (Let go of control) berarti membiarkan diri kita "jatuh" ke dalam kedaulatan Tuhan, menyadari bahwa rancangan-Nya jauh lebih aman daripada genggaman tangan kita yang rapuh. 

Pertanyaan refleksi: Area hidup mana (keuangan, keluarga, pekerjaan) yang saat ini mati-matian sedang Anda coba kendalikan sendiri?

Kalimat kunci: Kendali manusia adalah ilusi; keamanan sejati hanya ditemukan saat kita menjatuhkan diri sepenuhnya ke dalam pelukan Tuhan.



Stay Connected

To stay up to date on everything happening at GBI Eben Haezer, subscribe to our weekly newsletter.