Rabu 1 Juli 2026 — Melemparkan Beban ke Punggung yang Tepat

George Müller, seorang hamba Tuhan di abad ke-19, mengasuh lebih dari 10.000 anak yatim piatu di Inggris tanpa pernah meminta dana kepada manusia. Suatu pagi, tidak ada secuil roti pun untuk sarapan anak-anak. Di tengah situasi yang secara manusia sangat mengkhawatirkan, Müller memerintahkan anak-anak duduk di ruang makan dan ia menaikkan doa syukur. Tak lama setelah ia berkata "Amin," seorang tukang roti mengetuk pintu membawa roti segar, disusul seorang tukang susu yang keretanya rusak tepat di depan panti asuhan. Müller tidak membiarkan ketakutan akan hari esok menguasai hatinya.

"Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." (1 Petrus 5:7)

Saudara, kata "serahkanlah" dalam bahasa Yunani menggunakan kata epiripto, yang memiliki arti harfiah "melemparkan sesuatu ke atas". Kata ini sering digunakan dalam konteks melemparkan beban yang berat ke atas punggung seekor binatang beban (seperti keledai atau unta). Banyak dari kita saat ini sedang memikul beban ketidakpastian ekonomi, cicilan, atau biaya pendidikan anak yang terasa mencekik. Kita mengalami overthinking karena mencoba memikul beban yang desainnya tidak pernah ditujukan untuk bahu kita. Tuhan Yesus mengundang kita untuk melakukan epiripto—melemparkan beban kekhawatiran masa depan kita ke atas pundak-Nya yang kekar. Ketika kita percaya bahwa masa depan ada di tangan Tuhan, kita tidak perlu hidup dikuasai oleh kekhawatiran. 

Pertanyaan refleksi: Kekhawatiran apa yang hari ini masih Anda pegang erat-erat dan belum Anda "lemparkan" kepada Tuhan?

Kalimat kunci: Kekhawatiran tidak akan mengubah masa depan, ia hanya melumpuhkan kekuatan kita hari ini; lemparkanlah itu kepada-Nya.



Stay Connected

To stay up to date on everything happening at GBI Eben Haezer, subscribe to our weekly newsletter.