Senin 15 Juni 2026 — Iman yang Tetap Percaya Meski Lambat

Adoniram Judson tiba di Burma (Myanmar) tahun 1813 bersama istrinya Ann. Selama tujuh tahun pertama, ia tidak melihat satu pun orang Burma bertobat. Kemudian ia dipenjara selama 17 bulan dalam kondisi yang mengerikan selama perang Anglo-Burma. Ia kehilangan istri dan beberapa anaknya karena penyakit. Namun di tengah kegelapan penjara dan kegagalan yang panjang, Judson tetap percaya bahwa Tuhan sedang bekerja. Akhirnya, ia menyelesaikan terjemahan Alkitab dalam bahasa Burma dan ribuan orang datang kepada Kristus melalui pelayanannya.

“Sebab aku tahu, bahwa segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Allah.” (Roma 8:28)

Saudara, kisah Adoniram Judson mengajarkan kita bahwa iman yang tak tergoncangkan bukanlah iman yang langsung melihat hasil, melainkan iman yang tetap percaya ketika segala sesuatu tampak tidak masuk akal. Di Indonesia saat ini, banyak orang percaya yang sudah lama berdoa, berusaha, dan melayani, namun keadaan belum berubah — usaha menurun, keluarga bergumul, atau pelayanan terasa mandek. Tuhan memanggil kita untuk percaya bukan karena kita melihat, tetapi karena kita mengenal Dia yang setia.

Pertanyaan refleksi: Apakah ada doa atau pelayanan yang sudah lama saudara naikkan, namun belum melihat jawaban? Sudahkah saudara masih percaya bahwa Tuhan sedang bekerja di balik segala yang tampak lambat?

Kalimat kunci: Iman yang dewasa percaya bahwa Tuhan sedang menganyam kebaikan meski benang kehidupan terasa kusut dan tidak masuk akal.



Stay Connected

To stay up to date on everything happening at GBI Eben Haezer, subscribe to our weekly newsletter.