Senin 18 Mei 2026 — Nyanyian di Dalam Penjara

Tahun 1964, seorang pendeta Tionghoa-Indonesia bernama Pendeta Wongso ditangkap karena imannya. Ia dipenjara selama bertahun-tahun dalam sel yang sempit, gelap, dan penuh tikus. Makanan sangat sedikit, siksaan sering dilakukan, dan kabar keluarganya tidak sampai. Namun setiap malam, dari dalam selnya terdengar suara pelan bernyanyi lagu rohani. Para tahanan lain yang mendengar merasa heran dan terhibur. Pendeta Wongso berkata kepada teman sesama tahanan, “Situasi ini boleh mengurung tubuhku, tapi tidak bisa mengurung pujianku kepada Tuhan.” Setelah dibebaskan, ia tetap melayani dengan sukacita yang sama.

“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil zaitun mengecewakan, ladang-ladang tidak menghasilkan makanan, kambing domba tiada di kandang, dan sapi tidak ada di kandang, namun aku akan tetap bersorak-sorai dalam TUHAN, aku akan beria-ria dalam Allah yang kupercayai.” (Habakuk 3:17-18)

Saudara, Pendeta Wongso mengingatkan kita bahwa pujian yang sejati tidak lahir dari situasi yang nyaman. Di saat keadaan semakin sulit — kehilangan pekerjaan, sakit yang tak kunjung sembuh, atau hubungan yang retak — Tuhan masih layak dipuji. Ia tidak berubah meski dunia kita berubah-ubah. Ketika kita memilih memuji di tengah kesulitan, kita menyatakan bahwa Allah kita lebih besar dari segala keadaan.

Pertanyaan refleksi: Apa yang sedang terjadi dalam hidup saudara yang membuat saudara sulit memuji? Maukah saudara belajar memuji seperti Habakuk dan Pendeta Wongso?

Kalimat kunci: Kita melampaui situasi ketika pujian kita tidak lagi bergantung pada keadaan, melainkan pada kebesaran Tuhan yang tidak pernah berubah.



Stay Connected

To stay up to date on everything happening at GBI Eben Haezer, subscribe to our weekly newsletter.