Rabu 1 April 2026 — Jalan Menuju Salib

Sebuah penelitian dari Journal of Behavioral Science menunjukkan bahwa manusia cenderung menghindari penderitaan dan memilih kenyamanan, bahkan jika itu mengorbankan makna hidup yang lebih dalam. Namun sejarah iman Kristen justru menunjukkan kebalikan: makna terbesar lahir dari penderitaan yang dijalani dengan tujuan ilahi.

Menjelang penyaliban-Nya, Yesus berjalan menuju Yerusalem dengan kesadaran penuh akan penderitaan yang menanti-Nya. Ia tidak mundur. Ia tidak mencari jalan lain. Ia memilih taat.

“Lalu kata-Nya kepada mereka: ‘Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.’” (Lukas 9:23)

Salib bukan sekadar simbol penderitaan. Salib adalah jalan ketaatan. Yesus menunjukkan bahwa ketaatan kepada Bapa lebih besar daripada rasa sakit yang harus ditanggung. Dunia mengajarkan saudara untuk menghindari kesulitan. Tetapi Kristus mengajarkan saudara untuk setia di dalamnya.

Hari ini, mungkin ada “salib” yang saudara hindari—tanggung jawab, pengampunan, ketaatan, atau panggilan Tuhan. Ingatlah, setiap langkah menuju ketaatan membawa saudara lebih dekat kepada tujuan ilahi.

Jangan takut akan jalan yang sulit jika itu adalah jalan Tuhan. Karena di balik salib, selalu ada kebangkitan.

Pertanyaan refleksi:
Apakah ada “salib” dalam hidup saudara yang selama ini saudara hindari, padahal Tuhan memanggil saudara untuk memikulnya?

Kalimat kunci:
Jalan yang penuh salib seringkali adalah jalan tercepat menuju kemuliaan Tuhan dalam hidup saudara.



Stay Connected

To stay up to date on everything happening at GBI Eben Haezer, subscribe to our weekly newsletter.