Kamis, 19 Februari 2026 Yesus: Teladan Empati yang Sempurna
Ketika Yesus tiba di Betania, Lazarus telah empat hari di dalam kubur. Maria dan Marta menyambut-Nya bukan dengan sukacita, melainkan dengan tangisan dan kekecewaan. Mereka percaya Yesus sanggup menyembuhkan, tetapi kedatangan-Nya terasa terlambat. Dalam situasi itu, Yesus sebenarnya mengetahui akhir kisahnya. Ia tahu Lazarus akan dibangkitkan.
Namun Alkitab tidak mencatat bahwa Yesus langsung mengajar atau menjelaskan rencana Allah. Sebaliknya, satu kalimat pendek namun sangat dalam ditulis: “Maka menangislah Yesus.” Ia memilih masuk ke dalam duka manusia. Ia membiarkan hati-Nya tersentuh oleh air mata sahabat-sahabat-Nya.
Saudara, empati Kristus bukan karena ketidaktahuan, tetapi karena kasih. Ia tidak menghindari rasa sakit manusia, walau Ia memiliki kuasa untuk segera mengakhirinya. Dari empati itulah mujizat kebangkitan terjadi. Kehadiran-Nya mendahului kuasa-Nya.
Firman Tuhan:
Yohanes 11:35
Empati membuka jalan bagi karya Allah yang dinyatakan tepat pada waktunya.
Pertanyaan Refleksi:
Apakah saudara bersedia hadir dan menangis bersama sebelum berharap Tuhan bertindak?
Kalimat Kunci:
Empati Kristus mendahului kuasa Kristus.
Newest Events
Jumat 3 Juli 2026 — Penjara Imajinasi
Kamis 2 Juli 2026 — Pikiran yang Terbelah
Rabu 1 Juli 2026 — Melemparkan Beban ke Punggung yang Tepat
Selasa 30 Juni 2026 — Penutup Bulan: Masa Depan yang Aman
Senin 29 Juni 2026 — Warisan untuk Generasi Berikutnya