Selasa, 22 September 2026 — TUHAN MELIHAT CARA SAUDARA BEKERJA

William Colgate lahir di Inggris pada 1783 dan pindah ke Amerika Serikat bersama keluarganya saat masih remaja. Di Baltimore, ia belajar membuat sabun dan lilin dari ayahnya. Pada 1806, ia mendirikan usaha kecil di New York yang memproduksi sabun, lilin, serta berbagai produk berbahan dasar minyak dan lemak.

Dengan ketekunan, disiplin, kualitas produk, dan kejujuran dalam berdagang, usahanya berkembang menjadi Colgate & Company, yang kemudian menjadi bagian dari Colgate-Palmolive.

Colgate juga dikenal sebagai seorang Kristen Baptis yang aktif mendukung gereja, pendidikan teologi, dan pelayanan Kristen. Ia memandang kekayaan bukan sebagai milik pribadi semata, melainkan sebagai kepercayaan Tuhan yang harus digunakan dengan bertanggung jawab.

Kehidupannya menunjukkan bahwa keberhasilan bisnis dan iman dapat berjalan bersama. Warisan Colgate tidak hanya terlihat dari perusahaan yang dibangunnya, tetapi juga dari dukungannya terhadap pendidikan, gereja, dan pelayanan kepada masyarakat.

Keberhasilan tidak menghapus tanggung jawab.

Firman Tuhan berkata:

“Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.” — 1 Korintus 4:2

Saudara, Tuhan tidak hanya memperhatikan apa yang kita capai.

Dia memperhatikan bagaimana kita mencapainya.

Ada orang berhasil dengan mengorbankan keluarga. Ada yang memperoleh keuntungan dengan mengorbankan kejujuran. Ada yang mendapatkan posisi dengan menjatuhkan orang lain.

Mungkin dunia menyebutnya sukses.

Tetapi stewardship menanyakan sesuatu yang lebih dalam:

Apakah Tuhan berkenan dengan cara kita sampai ke sana?

Jika saudara dipercayakan bisnis, jalankan dengan benar. Jika dipercayakan jabatan, gunakan untuk melayani. Jika dipercayakan uang, jangan menjadi budaknya. Jika dipercayakan pengaruh, jangan gunakan untuk membesarkan diri.

Suatu hari semua pencapaian akan berhenti.

Gelar ditinggalkan. Jabatan diberikan kepada orang lain. Kekayaan berpindah tangan.

Yang tersisa adalah pertanyaan:

Apakah selama menjalani semuanya, kita ditemukan setia?

Pertanyaan Refleksi:
Apakah saya hanya berusaha mencapai keberhasilan, atau juga menjaga supaya cara saya mencapainya tetap menyenangkan hati Tuhan?

Ingatlah!
“Di hadapan Tuhan, bukan hanya tujuan yang penting; jalan yang saudara tempuh menuju tujuan itu juga harus mencerminkan kesetiaan.” Amin.

Stay Connected

To stay up to date on everything happening at GBI Eben Haezer, subscribe to our weekly newsletter.