Selasa, 3 November 2026 — JANGAN HANYA MELIHAT, MULAILAH BERTINDAK!
Pada awal abad ke-20, kehidupan perempuan di Indonesia masih menghadapi berbagai keterbatasan. Kesempatan memperoleh pendidikan belum terbuka secara merata. Banyak perempuan tidak memiliki akses yang memadai untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mereka.
Di Minahasa, Sulawesi Utara, seorang perempuan bernama Maria Walanda Maramis melihat keadaan tersebut dengan keprihatinan.
Maria lahir di Kema pada 1 Desember 1872. Ia kehilangan kedua orang tuanya ketika masih kecil dan kemudian dibesarkan oleh keluarganya di Airmadidi.
Pendidikan formalnya terbatas. Namun, keterbatasan tersebut tidak menghentikannya untuk memperhatikan kebutuhan perempuan di sekitarnya.
Maria melihat bahwa banyak perempuan membutuhkan kesempatan belajar agar dapat mengembangkan kemampuan, mendidik anak-anak, dan mengambil peranan yang lebih baik dalam keluarga maupun masyarakat.
Ia dapat saja menerima keadaan tersebut sebagai sesuatu yang biasa.
Namun Maria memilih bertindak.
Pada 8 Juli 1917, bersama sejumlah rekan, ia mendirikan organisasi bernama PIKAT, singkatan dari Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya.
Melalui organisasi tersebut, perempuan memperoleh kesempatan mengikuti pendidikan dan pelatihan berbagai keterampilan praktis, termasuk pengelolaan rumah tangga, keterampilan tangan, dan pengetahuan yang berguna bagi keluarga.
Gerakan ini kemudian berkembang.
Cabang-cabang PIKAT berdiri di berbagai wilayah Sulawesi dan bahkan menjangkau sejumlah kota di Pulau Jawa.
Maria juga memperjuangkan hak perempuan untuk berpartisipasi dalam pemilihan anggota dewan perwakilan Minahasa. Perjuangan tersebut turut menghasilkan perubahan dalam kesempatan politik perempuan setempat pada tahun 1921.
Apa yang membuat kisah Maria begitu menarik?
Ia bukan seseorang yang memiliki pendidikan tinggi atau sumber daya besar ketika memulai perjuangannya.
Namun ia melihat persoalan yang nyata, memahami pentingnya perubahan, dan mengambil langkah yang dapat dilakukannya.
Ia tidak berhenti pada keprihatinan. Ia bergerak menuju tindakan.
Kisah ini mempunyai pelajaran yang sangat relevan bagi kehidupan Kristen.
Sering kali kita mengetahui apa yang benar. Kita bahkan dapat menjelaskan dengan baik apa yang seharusnya dilakukan. Namun pengetahuan itu tidak selalu menghasilkan perubahan dalam kehidupan sehari-hari.
Firman Tuhan berkata:
“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” — Yakobus 1:22
Saudara, Yakobus memberikan sebuah peringatan yang sangat serius.
Seseorang dapat mendengarkan firman Tuhan, memahami isinya, bahkan menyetujuinya, tetapi tetap menipu dirinya sendiri apabila tidak melakukan apa yang diperintahkan.
Dalam konteks surat Yakobus, mendengarkan firman harus menghasilkan kehidupan yang nyata. Yakobus sebelumnya menasihati orang percaya untuk membuang segala sesuatu yang kotor dan menerima firman yang tertanam dalam hati mereka.
Kemudian ia menegaskan bahwa penerimaan terhadap firman tidak boleh berhenti pada pendengaran.
Mengapa?
Karena iman yang hidup seharusnya menghasilkan ketaatan.
Bayangkan seorang pasien yang datang kepada dokter. Setelah menjalani pemeriksaan, dokter menjelaskan penyakitnya dan memberikan petunjuk pengobatan.
Pasien tersebut mendengarkan dengan saksama. Ia mencatat semua penjelasan dokter. Bahkan ia mampu mengulangi seluruh nasihat yang diberikan.
Namun setelah pulang, ia sama sekali tidak mengikuti petunjuk pengobatan.
Apakah pengetahuannya cukup untuk membantunya?
Tentu tidak.
Mengetahui tindakan yang diperlukan berbeda dari benar-benar melakukannya.
Demikian pula dalam kehidupan rohani.
Saudara mungkin sudah sering mendengar khotbah tentang pengampunan. Namun, apakah Saudara masih menyimpan kepahitan kepada seseorang?
Saudara mungkin mengetahui bahwa kejujuran merupakan bagian penting dari karakter Kristen. Namun, apakah prinsip itu tetap Saudara pegang ketika ada kesempatan memperoleh keuntungan melalui ketidakjujuran?
Saudara mungkin memahami pentingnya kasih dalam keluarga. Namun, bagaimana cara Saudara berbicara kepada pasangan dan anak-anak ketika sedang kelelahan atau marah?
Pengetahuan tentang kebenaran tidak sama dengan ketaatan kepada kebenaran.
Yakobus kemudian menggunakan gambaran seseorang yang bercermin.
Ia melihat wajahnya, tetapi segera melupakan bagaimana rupanya setelah meninggalkan cermin tersebut.
Firman Tuhan dapat diibaratkan seperti cermin yang memperlihatkan keadaan rohani kita. Namun, cermin tidak memberikan manfaat apabila seseorang melihat sesuatu yang perlu diperbaiki lalu mengabaikannya.
Misalnya, ketika Saudara membaca Efesus 4:29 tentang menjaga perkataan supaya membangun orang lain, firman tersebut mungkin mengingatkan bahwa Saudara terlalu sering mengucapkan kata-kata yang melukai.
Apakah respons yang benar?
Bukan sekadar berkata, “Ayat ini bagus sekali.”
Respons yang benar adalah mulai mengubah cara berbicara.
Jika firman mengingatkan tentang kemurahan hati, pikirkan siapa yang dapat Saudara tolong. Jika firman menegur kebiasaan menunda tanggung jawab, mulailah menyelesaikan pekerjaan yang selama ini diabaikan.
Jangan menunggu perubahan besar.
Mulailah dengan satu langkah ketaatan yang nyata.
Saudara, kita harus berhati-hati agar tidak menjadikan ketaatan sekadar usaha manusia untuk mendapatkan penerimaan Allah.
Kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman kepada Yesus Kristus. Namun, sebagaimana Efesus 2:10 menjelaskan, kita diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah.
Ketaatan bukan harga untuk membeli keselamatan.
Ketaatan merupakan buah dari kehidupan yang telah menerima kasih karunia.
Maria Walanda Maramis melihat kebutuhan masyarakat dan memilih melakukan sesuatu berdasarkan kemampuan yang dimilikinya.
Kisahnya mengingatkan bahwa kesadaran yang benar seharusnya menghasilkan tanggung jawab yang nyata.
Terlebih lagi bagi orang percaya yang telah menerima firman Allah.
Jangan puas hanya menjadi pendengar yang rajin. Jadilah orang percaya yang membiarkan kebenaran mengubah kehidupan.
Iman yang sungguh-sungguh mendengar akan belajar berjalan dalam ketaatan.
Pertanyaan Refleksi:
Kebenaran firman Tuhan apakah yang sudah berulang kali saya dengar, tetapi belum sungguh-sungguh saya lakukan dalam kehidupan sehari-hari?
Ingatlah!
“Firman Tuhan tidak diberikan hanya untuk memenuhi pikiran Saudara, tetapi untuk membentuk kehidupan Saudara melalui ketaatan.” Amin.
Newest Events
Sabtu, 7 November 2026 — ALKITAB DI TANGAN, FIRMAN DI HATI
Jumat, 6 November 2026 — JANGAN MENOLAK KOREKSI YANG MENYELAMATKAN
Kamis, 5 November 2026 — KEBENARAN LEBIH PENTING DARIPADA KENYAMANAN
Rabu, 4 November 2026 — KETIKA KEBIASAAN TERNYATA MEMBAHAYAKAN
Selasa, 3 November 2026 — JANGAN HANYA MELIHAT, MULAILAH BERTINDAK!