Jumat, 25 September 2026 — SATU KEHIDUPAN YANG DIJALANI DENGAN SETIA
Mary Slessor lahir di Skotlandia pada 1848 dalam keluarga pekerja sederhana. Sejak muda ia bekerja di pabrik untuk membantu keluarganya.
Namun hatinya terbeban untuk misi. Ia percaya bahwa Tuhan memanggilnya bukan hanya untuk mendengar tentang kebutuhan orang lain, tetapi untuk hadir dan melayani secara langsung.
Pada 1876 ia berangkat ke wilayah yang sekarang menjadi Nigeria. Slessor belajar bahasa setempat, hidup dekat dengan masyarakat, merawat anak-anak, membantu menyelesaikan konflik, dan menentang praktik berbahaya terhadap bayi kembar yang terdapat dalam komunitas tertentu pada masa itu.
Pelayanannya tidak selalu mudah. Ia harus menghadapi penyakit, perjalanan yang berat, perbedaan budaya, dan berbagai risiko yang mengancam keselamatannya. Namun ia tidak membiarkan kesulitan membuatnya berhenti. Ia terus membangun hubungan dengan masyarakat dan menunjukkan kasih Kristus melalui tindakan nyata.
Ia menghabiskan sebagian besar sisa kehidupannya di Afrika. Bagi Slessor, hidup bukan terutama tentang kenyamanan pribadi, melainkan tentang menggunakan waktu, tenaga, dan keberanian yang Tuhan berikan untuk menjadi berkat bagi orang lain.
Tidak banyak kemewahan.
Tetapi ada kesetiaan.
Firman Tuhan berkata:
“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.” — Matius 25:21a
Saudara, ada kalimat yang seharusnya lebih kita rindukan daripada semua pujian manusia:
“Baik sekali perbuatanmu, hai hambaku yang baik dan setia.”
Bayangkan mendengar kalimat itu dari Yesus.
Tiba-tiba banyak hal yang kita kejar terlihat berbeda.
Popularitas tidak terlalu penting. Tepuk tangan tidak terlalu penting. Membuktikan diri kepada orang lain tidak terlalu penting.
Yang penting adalah menyelesaikan bagian yang Tuhan percayakan.
Mungkin saudara tidak dipanggil menyeberangi samudra.
Tetapi saudara memiliki ladang: keluarga, pekerjaan, gereja, lingkungan, atau seseorang yang Tuhan tempatkan di dekat saudara.
Setialah di sana.
Pertanyaan Refleksi:
Jika tujuan terbesar hidup saya adalah mendengar Tuhan berkata, “Baik sekali, hambaku yang baik dan setia,” apa yang perlu saya ubah mulai hari ini?
Ingatlah!
“Hiduplah bukan untuk tepuk tangan yang segera berhenti, tetapi untuk satu kalimat dari Kristus yang nilainya kekal: ‘Baik sekali, hambaku yang setia.’” Amin.
Newest Events
Kamis, 1 Oktober 2026 — KETIKA JAWABAN TUHAN BERBEDA
Rabu, 30 September 2026 — SEMUANYA KEMBALI KEPADA TUHAN
Selasa, 29 September 2026 — UKURAN SUKSES YANG BERBEDA
Senin, 28 September 2026 — JANGAN HABISKAN HIDUP UNTUK YANG SEMENTARA
Minggu, 27 September 2026 — DITEMUKAN SETIA