Kamis, 24 September 2026 — SETIA KETIKA HARGANYA MAHAL
John Sung lahir di Fujian, Tiongkok, pada 1901. Ia belajar di Amerika Serikat dan memperoleh gelar doktor kimia dari Ohio State University.
Masa depan akademisnya terbuka lebar. Ia memiliki kesempatan untuk melanjutkan karier di bidang ilmu pengetahuan, memperoleh posisi terhormat, dan menikmati kehidupan yang nyaman. Banyak orang mungkin menganggap pencapaian akademis tersebut sebagai puncak keberhasilan.
Namun setelah mengalami pembaruan rohani, Sung mengambil jalan berbeda. Ia menyadari bahwa pengetahuan, kecerdasan, dan kesempatan yang dimilikinya bukan hanya untuk membangun masa depan pribadi. Semua itu adalah kepercayaan Tuhan yang harus dipakai bagi tujuan yang lebih besar.
Ia kembali ke Asia dan menjadi penginjil. Pelayanannya membawanya ke berbagai wilayah Tiongkok dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ia berkhotbah dengan penuh keberanian, mengajar banyak orang, mendorong pertobatan, dan membangkitkan semangat gereja-gereja untuk kembali kepada Firman Tuhan.
Pelayanan Sung tidak selalu mudah. Ia menghadapi perjalanan panjang, kelelahan, penolakan, dan kondisi kesehatan yang terus menurun. Namun ia tetap memilih untuk menggunakan hidupnya bagi Tuhan. Ia tidak membiarkan gelar, prestasi, atau masa depan akademis menguasai hatinya.
Karier menjanjikan tidak lagi menjadi pusat hidupnya.
Sung tidak menganggap pendidikan sebagai sesuatu yang harus dibuang. Ia justru memakai pengetahuan, kemampuan berpikir, dan pengalaman yang dimilikinya untuk menjelaskan kebenaran dengan lebih jelas dan menjangkau banyak orang.
Inilah prinsip stewardship: bukan berarti kita harus meninggalkan semua yang kita miliki, melainkan menyerahkan semuanya kepada Tuhan dan membiarkan Dia menentukan bagaimana semuanya digunakan.
Ada orang yang dipanggil meninggalkan karier. Ada yang dipanggil tetap berada di dalam profesinya. Ada yang melayani melalui mimbar, sementara yang lain melayani melalui kantor, sekolah, bisnis, rumah sakit, atau keluarga.
Yang terpenting bukan tempat kita berada, melainkan apakah hidup kita sudah berada di tangan Tuhan.
Ketika Tuhan menjadi pusat, karier tidak lagi menjadi tuan. Pendidikan tidak lagi menjadi sumber kesombongan. Kekayaan tidak lagi menjadi tujuan akhir. Semua itu berubah menjadi alat untuk melayani dan memuliakan-Nya.
John Sung mengingatkan kita bahwa keberhasilan terbesar bukanlah mencapai posisi tertinggi dalam pandangan manusia, melainkan menemukan kehendak Tuhan dan setia menjalaninya sampai akhir.
Firman Tuhan berkata:
“Karena kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” — 2 Korintus 5:10
Saudara, setiap pilihan memiliki harga.
Mengikuti Tuhan terkadang berarti mengatakan tidak kepada sesuatu yang sebenarnya dapat kita miliki.
Tidak semua orang dipanggil meninggalkan profesi seperti John Sung. Banyak orang justru dipanggil tetap berada dalam bisnis, pendidikan, pemerintahan, kesehatan, atau profesinya.
Persoalannya bukan di mana saudara bekerja.
Persoalannya adalah siapa yang memiliki hidup saudara.
Suatu hari kita berdiri di hadapan Kristus.
Pada saat itu pertanyaan terbesar bukan seberapa tinggi posisi yang pernah dicapai.
Yang penting adalah apakah kita menggunakan kehidupan sesuai kehendak-Nya.
Jangan takut membayar harga untuk ketaatan.
Pertanyaan Refleksi:
Adakah sesuatu yang saya pertahankan begitu kuat sehingga membuat saya sulit menaati panggilan Tuhan?
Ingatlah!
“Kesetiaan mungkin menuntut harga hari ini, tetapi tidak ada pengorbanan bagi Kristus yang akan terasa sia-sia ketika kita berdiri di hadapan-Nya.” Amin.
Newest Events
Kamis, 1 Oktober 2026 — KETIKA JAWABAN TUHAN BERBEDA
Rabu, 30 September 2026 — SEMUANYA KEMBALI KEPADA TUHAN
Selasa, 29 September 2026 — UKURAN SUKSES YANG BERBEDA
Senin, 28 September 2026 — JANGAN HABISKAN HIDUP UNTUK YANG SEMENTARA
Minggu, 27 September 2026 — DITEMUKAN SETIA